Monday, 30 January 2017

CERPEN - JUST A LITTLE DIARY IN BLOG


Ya, kali ini aku ingin mengepost tentang aktivitasku di pekanbaru selama 20 hari. Hari dimana teman terasa sangat langka dan juga kebebasan berekspresi terasa dikekang. Lebih kepada, kesendirian yang ramai(?) Dan menjadi . . . dekat (?)
_________________________________________________________________

“Yey!” aku melompat gembira setelah aku tahu bahwa aku lolos masuk ke tahap selanjutnya dalam lomba yang aku ikuti, sebut itu OSN. Dan aku berhasil lolos menuju tingkat provinsi. Dan ya, aku diizinkan untuk mengikuti pelatihan 20 hari di Pekanbaru.

Pengalaman ya? Tentu saja banyak pengalaman baru yang kurasakan disana. Lebih tepatnya pengalaman lama yang terulang kembali bersama orang-orang baru. Aku sendirian, tanpa seorang teman. Berjalan menuju kelas, naik lift, sarapan hingga makan malam hampir aku lakukan sendirian disana. Hanya sekilas senyuman dari orang-orang yang kutau namanya. Aku mengenalnya, tapi yang kukenal itu bukan teman. Aku hanya mengnealnya sebatas nama dan ya, aku mengenalnya hanya sebatas nama.

Bahkan, teman sekamarku adalah orang-orang yang tidak berani kukatakan teman. Kenapa? Karena mereka terlalu hormat, dan tidak memperlakukanku sebagai seorang teman. Aku lebih terlihat sebagai pemimpin, dan karenanya, aku pun reflek juga bertindak sebagai apa yang mereka pikirkan.

Keterbatasan waktu membuat koneksi antara aku dan ibu menjadi singkat. Dan keterbatasan sarana juga menjadi sebabnya. Aku bahkan sempat menghubungi beberapa temanku. Dan mereka semua, cukup baik. Mereka menjadi teman untuk durasi dua puluh menit panggilan. Jangan salahkan aku, aku hanya tidak suka mendengar suara yang lama dan berisik, sinyal yang tak bersahabatlah yang membuat suara itu seolah-olah mengalami slow motion.

Namun, setelah beberapa hari pun aku bisa berbaur dengan orang-orang disana. Aku menjadi pendiam didekat orang pendiam dan menjadi ceria didekat orang yang cukup ceria. Berterima kasih kepada orang-orang yang ada disana, walaupun singkat aku tetap bisa berinteraksi dengan mantap karena mereka. Lebih kepada, menyesuaikan diri.

Sepuluh hari di sana sudah usai, sekarang, waktunya pulang dan kembali lagi kesini dalam tiga hari kedepan. Ya, aku menemui sahabat dan teman-teman disekolahku. Bahkan, tidak butuh waktu lama untuk dapat berinteraksi kembali dengan seseorang yang kupanggil baka. Awalnya, memang terasa sulit untuk memulai percakapan dengannya berhubung ia adalah seseorang yang spesial. Tidak seperti liza yang langsung memberikanku senyuman cerianya padaku, ia lebih kepada melirikku secara sekilas dan aku tahu, ia menyebalkan.

Aku menjalani berbagai ujian sekolah berhubung kepergianku tepat pada saat ujian semester ganjil berlangsung. Aku harus merelakan waktuku untuk melakuka ujian lima kali sehari untuk mengejar ketertinggalanku. Dan pada saat itu, aku malah dalam keadaan tidak sehat. Betapa beratnya hariku saat itu. Namun syukurlah, aku dapat melewatinya dengan baik.

Sepuluh hari berikutnya, hari terburuk. Teman yang awalnya kuanggap teman tidak menyapaku lagi dan bahkan menghindariku. Aku lihat pada sekitar tubuhku apa yang salah, kulihat cermin aku masih dengan wajah yang sama. Dan aku pikir, tingkahku masih pada tingkah yang sama. Ya, ternyata karena mereka memiliki teman baru. Teman baru yang terlihat baik dan selalu ceria. Dan aku hanya bisa melepaskan nafas, ternyata bukan salahku. Ya, niatku untuk berteman dengan mereka kembali menjadi lebur. Dan bahkan, tidak ada pikiran bahwa aku akan dekat dengan mereka lagi. Nah, aku sendiri.

“Ini seperti mengulang masa SMP” Gumamku. Dimana orang-orang datang ketika butuh bantuan dan pergi seperti angin. Seperti orang yang tidak pernah kukenal sebelumnya. Tentu saja, aku bersikap sama. Seolah-olah aku tidak mengenal mereka.

Sepuluh hari menjadi terasa kembali baru. Untung teman sekamarku adalah anak SMP, jadi aku semakin merasakan ketidakhadiran teman. Tapi anak-anak kecil itu, mereka baik. Dan aku menghabiskan malam pertamaku kembali kesana, dengan bercerita banyak hal dengan seorang teman yang dekat. Dekat dari segi hubungan dan jauh dari segi jarak. Tentu saja, aku membutuhkan sarana komunikasi untuk dapat bicara dengannya. Aku tidak mengingat apa yang kami bicarakan, dan anehnya, kami dapat berbicara berjam-jam hingga pagi =_=

Dan ibu, aku mengubungi ibu dan dengan mendengar suaranya saja, aku menangis. Aku diams sejenak mendengar suaranya yang terdengar sangat familiar dengan logatnya yang agak lebay. Ia memanggil namaku seolah-olah ia ada disampingku saat itu. Bahkan, aku bicara dengannya sambil menangis. Dan ibu, tidak sadar akan hal itu. Tentu saja, suatu kelegaan meliputi pikiranku. Aku benar-benar merindukan rumah saat itu, kejenuhan sudah meliputiku sejak aku berada disana.

Dan ayah, ia mengalami kecelakaan dikala aku tidak berada disana. Dan aku masih bisa bersyukur, karena ayah masih bisa bicara denganku dengan tawanya. Ia tertawa layaknya ia ingin mengatakan bahwa ayah baik-baik saja. Aku benar-benar ingin pulang melihat keadaan ayah, entah kenapa tawa ayah menjadi terasa sangat sakit, sakit hingga aku tidak bisa membendung air mata lagi dan setelah itu, aku tidak dapat menghentikan derasnya air mata yang aku keluarkan. Baka, gumamku.

Nah, aku tidak memiliki teman dan aku tidak ingin membebani pikiran orang tuaku. Ingin aku mengatakan segala sesuatu yang sedang aku rasakan pada sahabat-sahabatku, namun mereka juga tidak bisa, berhubung sarana komunikasi kami cukup berbeda. Siapa lagi? Tempat aku menuangkan pikiran-pikiran ini, tempatku dapat mengekspresikan  aku secara keseluruhan.

Si baka itu, tuan super menyebalkan. Ia menemaniku hampir setiap hariku disana, bukan mungkin sudah setiap hari, bahkan ia menemaniku belajar disana. Jarak kami cukup jauh, namun komunikasi kami sangat baik. Aku dapat mengekspresikan diriku didepannya karena kami cukup dekat dalam masalah hubungan. Aku pun tidak segan menyampaikan keluh kesahku padanya. Dan ia benar-benar seseorang yang membantu, aku terbangun dari malasku dan terbangun dari kejenuhanku. Ia menjadi teman yang baik, teman jauh yang baik. Kami benar-benar berkomunikasi via audiovisual. Bahkan, aku melihatnya tertidur didepanku. dan juga tidak jarang, aku tertidur dikala sedang bicara dengannya.

Ditengah keterpurukanku, ada dia. Dia seseorang yang spesial. Namun, sangat menyebalkan. Ya seharusnya aku berterima kasih. Dan projek terima kasihku, selalu gagal karena waktu. Karena dia juga.

Wah, aku gak tau ni kemana arah pembicaraan short diary ini. Dan entahlah, seperti aku cukup menulis semuanya disini. Konflik bathin yang aku rasakan selama 20 hari dan itu sangat fuyukaides.

1 comments:

Post a Comment