Friday, 13 March 2015

CERPEN DIA AYAHKU OLEH TASYA MARLIANI



HAI GUYS, AKU MAU SHARE CERPEN BUATAN AKU NIH. MAAF KALO GAJE ATAU CERITANYA MEMBOSANKAN. MAKASIH BUAT YANG UDAH BACA YA. JANGAN LUPA FOLLOW TWITER AKU DI @TASYAMARIANI

CERPENKU - DIA AYAHKU
 TASYA MARLIANI


 


Ayam jantan berkokok sedemikian keras untuk menyadarkan sekampung penduduk yang sedang bermain didalam mimpi nan indah maupun nan kelam. Seorang laki-laki yang sudah terbangun membersihkan dirinya dengan air yang dingin dikamar mandi dan memakai baju kuning yang setia menemaninya untuk 1 hari kedepan. Ia adalah Ahmad.
Ia melangkahkan kakinya sambil meraih tas yang warnanya sudah pudar. Ia pun menuju kesebuah kamar yang berpintu kayu. Dan ditemuilah sosok seorang perempuan yang sedang terlelap dalam tidurnya yang merupakan buah hatinya.
Ia mengelus-elus puncak kepala sosok kecil tersebut dengan hati-hati agar tidak membangunkan malaikatnya yang sedang tertidur itu. Dan dikecupnya dahi sang malaikat kecil dengan penuh harapan dan doa agar ia tumbuh sesuai dengan harapan.
Ternyata, anaknya terbangun dikala ia mengelus-elus kepalanya. Ia hanya tersenyum memperhatikan anaknya yang sedang menguap dan menggosok-gosokkan matanya agar ia bisa melihat lebih jelas makhluk apa yang ada didepannya sekarang.
“Oo, Ayah.. Ayah mau kemana pagi-pagi?…” Tanya Dini sang buah hati kepada Sang Ayah dengan mata setengah terbuka dan masih setengah sadar.
“Ayah mau pergi kerja, Dini tidurlah lagi, sekarangkan masih jam setengah 5. Nanti jangan lupa sholat shubuh” Jawab Ayah dan mengecup dahinya lagi dan melangkahkan kakinya menjauh dari ranjang milik Dini tersebut.
“hoaam… Ayah, hati-hati dijalan ya..” Kata Dini dan kembali terlelap melanjutkan mimpinya yang sempat tertunda. Ahmad yang sempat melirik anaknya itu tersenyum tipis dikala Dini kembali tertidur pulas.
Ahmad menuju dapur melihat sarapan yang telah ia siapkan untuk Anak semata wayangnya itu. Istrinya sudah meninggal 1 tahun yang lampau, meninggalkan kenangan indah yang tak pernah tertiup angin kelam dalam diri Ahmad.
Dengan kaki kurusnya, ia mulai menelusuri jalan yang diterangi lampu jalanan yang teramat sepi. Wajar, karena waktu masih menunjukkan jadwal tidur para insan ciptaan tuhan. Setelah beberapa ratus ia melangkah, tibalah ia disebuah kantor yang berwarna kuning sama persis seperti warna baju dan topi yang ia pakai sekarang.
Dipijaknyalah lantai kantor pos itu dengan kakinya dan menyapa orang-orang yang ia lewati dan sampailah ia didepan bisnis nyatanya, bermain dengan surat dan kiriman.dari berbagai penjuru daerah se-indonesia ini.
Sambil menyusun surat-surat yang ada didalam tas kuning kusamnya itu, ia mendengarkan keluhan dari teman seperjuangannya Doni yang memiliki pekerjaan yang sama dengannya, yaitu mengirimkan semua kiriman kepada alamat yang tertera pada kiriman tersebut.
“huft.. sudah 2 tahun aku disini, tapi pangkatku tak naik-naik juga, aku selalu kerja lembur tapi tak pernah naik pangkat. Hidup ini memang tak adil buatku” Keluh Doni kepada Ahmad sambil memasukkan kiriman-kiriman didalam tasnya dengan tenaga yang sedikit kuat dan terpaksa.
“hei, jangan ngeluh-ngeluh gitu.. kita kan tukang pos, kerjanya ngantar kiriman. Memangnya kamu mau kerja apalagi? Jadi kepala kantor pos ini? Pakai komputer saja kamu gak bisa hahaha….” Kata Ahmad kepada Doni dengan sedikit candaan untuk membuat suasana menjadi santai.
“kamu benar juga, jangankan pakai komputer, pegang saja gak pernah.. kamu tau? Dulu saya selalu jadi juara kelas dismp saya, jangan sangka saya sebodoh itu ya…” kata Doni dengan percaya diri dan mereka berdua tertawa bersama-sama.
Dengan segenap tenaga yang ia miliki, Ahmad pun langsung menaiki sepeda kuning yang bermerekkan ‘Kantor Pos Duta Abadi’ yang akan membantunya menjalani tugasnya. Segeralah ia kayuh sepedanya dengan sekuat tenaga dan mulai menuju ke alamat yang tertera pada salah satu kirimannya.
Matahari pun mulai naik dengan gagah perkasa dilangit, membuat sekujur badan tukang pos ini menjadi bermandikan keringat. Tapi, tidak menurunkan semangatnya untuk terus mengayuh sepedanya. Ia terus melaju dengan sepedanya itu, mengantarkan segala macam kiriman baik yang besar maupun yang kecil.
BRAK! Sebuah batu besar bisu mencelakakan Ahmad yang perasaannya telah puas, karena telah mengantarkan semua kiriman kepada seluruh penjuru kota. Sepeda yang ia naiki menjatuhkan dirinya ketengah jalan yang banyak dilalui kendaraan.
Dan ketika Ahmad hendak bangkit dari jatuhnya, sebuah sepeda motor yang melaju kencang dari utara, memberikan hadiah kedua untuk Ahmad, membuat Ahmad terpaksa kembali mencium aspal yang panas dan membuat dirinya bertambah sakit.
Orang-orang yang melihat Ahmad memegangi tangannya yang terlihat amat menyakitkan, refleks berlari menuju Ahmad untuk dibawa ketepi jalan. Darah bercucuran dikepalanya, Ahmad tak henti-henti berteriak kesakitan sambil memegang tangan kirinya, lalu ia dilarikan dirumah sakit yang dekat dengan lokasi kecelakaan itu terjadi.
Dini, anak semata wayang yang ia besarkan sendiri, setelah mendengar berita tentang ayahnya, mengeluarkan tetesan air mata yang terbendung dipelupuk matanya. Ia sangat sedih. Tak ingin kehilangan seorang ayah yang sangat ia cintai, dan satu-satunya keluarga yang ia miliki sekarang semenjak kematian ibunya.
Sesampainya dirumah sakit, Dini tidak diizinkan masuk keruangan ayahnya, walaupun hanya sebentar. Dini semakin kesal dan marah, ia pun berteriak dari luar ruang dimana ayahnya berada sekarang, berharap bahwa sang Ayah akan keluar setelah mendengar panggilan dari dirinya. Namun sayang, jangankan untuk keluar dari ruangan, mendengarkan teriakannya tidak bisa. Karena ruangan yang ditempati ayahnya dilengkapi dengan alat pengedap suara. Dimana, orang- yang ada didalam ruangan tidak dapat mendengarkan orang-orang diluarnya begitu juga sebaliknya.
“kenapa aku gak boleh masuk? Dia itu Ayahku, Ayahku.. Aku harus melihatnya” kata Dini kepada petugas yang menahannya masuk. Ia sangat kesal sekarang, sakin kesalnya ia pun kembali mengeluarkan air matanya untuk kesekian kalinya.
“Dek.. tenang, tenang dulu. Sekarang ada pemeriksaan dari dokter. Tolong tunggu 15 menit ya…” kata petugas tersebut dengan lembut kepada Dini. Dini tidak dapat melawan, tenaganya sudah terkuras habis untuk melawan perkataan dari petugas tersebut.
Ia jatuh terduduk dikursi tunggu, dan setiap menit ia melirik jam yang ada ditangannya yang jarum merahnya menurutnya bergerak sangat lamban. Sambil menunggu, sesekali ia melirik dari jendela yang memiliki cela kecil untuk melihat kedalam dan mondar-mandir didepan pintu yang bertuliskan “ICU” tersebut.
“huufftt… lama banget dokternya. Ayah, ayah baik-baik ajakan didalam? Lagi ngomong sama dokter itukan? Iyakan?” gumamnya sambil melihat ayahnya dari cela jendela ruang tersebut.
Sudah 30 menit ia menunggu, tapi pintu tak kunjung terbuka, membuat kekhawatiran kembali bersarang didalam diri Dini sekarang. Berkali-kali ia berdoa kepada Allah agar diberikan kesehatan dan umur yang panjang untuk Ayahnya tersayang.
Terdengar oleh Dini suara pintu terbuka di menit ke-35, ia langsung bertanya kepada dokter tentang keadaan ayahnya dengan segala harapan dan doa yang selalu terucap didalam hati kecilnya akan kesehatan ayahnya.
“gi..gimana dok? Ayah saya baik-baik aja kan?” Tanya Dini to the point kepada dokter tersebut.
“Tangan Pak Ahmad harus diamputasi, sebaiknya dilakukan sekarang juga, jika tidak, kemungkinan besar Pak Ahmad akan meninggalkan dunia ini. Sudah, saya pergi dulu” Jawab dokter menjelaskan keadaan Ayah Dini.
Dini berlari dan langsung menuju ruangan tempat dimana ia terbaring sekarang, air mata Dini kembali menetes dan memeluk ayahnya. Ia tak dapat berkata apa-apa sekarang. Kekhawatiran didalam dirinya semakin menjadi-jadi dan membuatnya semakin takut untuk bicara. Yang ia dapat lakukan hanya berdoa, agar diberikan jalan untuknya dan ayahnya sekarang ini.
Tiba-tiba, pintu ruangan itu yang seharusnya tertutup langsung terbuka pelan yang menghasilkan suara yang mengerikan, tapi ternyata Kepala Kantor Pos Duta Abadi, Budi dan semua rekan-rekannya pergi menjenguk ayahnya. Betapa senangnya hati Dini, ketika mengetahui bahwa ayahnya punya banyak sekali teman-teman yang terlihat baik.
“biar bapak yang membiayai semua biaya operasinya ya, yang penting tangan Ahmad harus diamputasi sebelum terlambat ya..” kata Kepala Budi kepada Dini yang berada tepat disampingnya.
“b..bapak mau? Biayanya m..mahal pak” Tanya Dini terkejut setelah mendengar Pak Budi yang ingin membantu ayahnya selamat dari sakaratul mautnya sekarang.
“tentu.. Ahmad adalah orang yang paling rajin dikantor pos kami, dan dia selalu tersenyum kepada semua orang/ berkatnya semua pekerja yang ada dikantor selalu termotivasi atas semangat yang dimilikinya. Saya sudah menganggapnya sebagai adik saya sendiri” jawab Pak Budi dengan senyum yang terukir diwajahnya nan lebar.
Sekarang, kekhawatiran Dini mulai hilang, ia selalu berdoa gar diberi kelancaran pada saat operasi dilakukan. Semua orang pun juga menaruh doa dirumah sakit itu beserta teman-teman Dini yang baru saja tiba.
Operasi telah dilakukan dengan sukses, Dini pun meloncat kegirangan sambil memeluk teman disampingnya dan teman-teman Ahmad pun juga ikut tersenyum bahagia. Sekarang, Dini tidak perlu khawatir untuk kelihangan orang tua yang ia sayang ini.
Setelah seminggu operasi dilakukan, Ahmad yang telah kehilangan lengan kirinya pun masih saja menjadi tukang pos. tukanng pos yang rajin seperti biasanya. Tukang pos yang baik hati dan murah senyum/ sungguh sosok yang dirindukan oleh semua orang.
Tak sengaja Ahmad, Ayah Dini lewat didepan sekolahnya. Dini melambaikan tangannya kepada Ayahnya, namun ayahnya tidak melihat Dini karena focus terhadap jalanan yang ditempuhnya.
“Ittu ayahku!” kata Dini bersemangat kepada sahabat-sahabatnya. Mereka semua tersenyum dan tertawa. Dini sangat bangga terhadap ayahnya, karena ayahnya selalu memberikan motivasi dalam kerja kerasnya, selalu memujinya disaat ia berhasil melakukan sesuatu yang diharapkannya.
“ayahku tanpa tangan. Hahaha, siapa yang mau punya ayah cacat? Gue? Ogah banget” ucap Lisa mengejek Dini. Lisa adalah anak orang kaya yang satu kelas dengannya.
Dini pun refleks ingin memukul Lisa. Akan tetapi, kedua sahabatnya menahan kedua lengannya untuk mendekat dengan Lisa. Karena, jika terjadi sesuatu pada Lisa, yang selalu rugi adalah Lawan yang dihadapinya, baik bersalah maupun tidak.
“asal kamu tau aja ya, ayahku itu bukan sekedar tukang pos cacat, tapi dia adalah pahlawan semua orang. Kamu gak akan pernah memiliki ayah terhebat didunia seperti ayahku. Ia adalah ayah nomor 1 didunia ini tauu…!!! DIA AYAHKU!!” Teriak Dini kepada Lisa. Lalu, Dini tersenyum karena teringat ayahnya memang ayah nomor 1 didunia.
Lisa pun meremehkan Dini, ia menjulurkan lidahnya, dikala ia sedang asyiknya mengejek Dini, kepalanya pun mencium tembok disamping pintu kelasnya. Semua orang yang ada dikelas tertawa melihat dirinya. Lalu, ia pun cepat-cepat melarikan diri dari ruang kelasnya itu.
Dengan semangat yang masih membara didalam dirinya, Ahmad pun pulang dengan tersenyum cerah. Terlihat sesosok malaikat kecil menunggu didepan pintunya dan melambaikan tangan kepada dirinya.
“Ayaahhh…” teriak sosok tersebut, Dini. Ia pun mendekat dan memeluk ayah kesayangannya itu. Ahmad pun bahagia melihat anaknya yang menyayanginya ini. Semua beban yang ia lakukan hari ini terasa hilang tanpa bekas saat ia melihat senyum bahagia sang malaikatnya ini.
Ahmad dan anaknya pun melangkah memasuki pintu depan rumahnya dengan senyum cerah mereka masing-masing. Ahmad pun mengakhiri kerja kerasnya dikantor pos tersayangnya, dan memulai kerja keras lagi besok paginya dan begitu juga seterusnya.
Ahmad pun menaiki ranjangnya, sebelumnya ia menyempatkan diri untuk mencium anaknya. Ia mulai menutup mata dan terlelap terbang kea lam mimpinya. Berharap hari esok akan bersahabat dengannya, sebagai seorang tukang pos. ***

0 comments:

Post a Comment