Sunday, 23 April 2017

10 HARIKU

Ya, hai minna. Ini adalah hari ke-8 ku mengikuti tahap ke empat ini. Hehe, gak kerasa udah hampir 40 hari gak sekolah dalam semester ini, ah, lupa hari minggu dan tanggal merahnya juga.

Ya, gak jauh berbeda sih dengan yang kemarin-kemarin. Tapi, kali ini aku bisa beradaptasi dengan lingkungan disini, suasananya, anginnya, udaranya, dan juga cuacanya.

Dalam satu hari aku menghabiskan waktu belajar fisika 10+3atau4 jam perharinya. Gak bisa dipungkiri sih, karna kedatanganku kesini adalah untuk menuntut ilmu sebanyak mungkin.  Keseharianku disini tidak membuatku lupa akan rumah, jadi setiap hari tidak ada kata tidak untuk menghubungi ibu/ayah/adik.

Sekarang aku sedang menikmati pemandangan langit biru dari lantai 6. Biru, dan juga dengan awan putih yang bergerak karena angin. Jika kubuka jendela, hawa diluar terasa jadi lebih panas. Tapi, hal yang paling menyenangkan ketika melihat keluar jendela adalah melihat matahari terbit dan melihat matahari terbenam. Kalau dirumah, aku lebih suka melihat bintang, tapi karena aku dikota, jadi tidak ada bintang yang bisa aku lihat setiap malam.

Aku tidak bisa dibilang mempunyai teman disini,setelah belajar aku langsung kekamar, teman sekamarku memiliki banyak teman  jadi ya aku tidak bisa bersosialisasi dengan baik.

Hari pertama dia begitu baik dan juga ramah. Tapi, setelah hari kedua, aku menemukan fakta bahwa ia tidak lagi ada diduniaku. Kami tidak pergi sarapan dan makan siang bersama. Bahkan ketika malam ia tidak dikamar, belajar kelompok lebih menyenangkan bersama teman-teman daripada berlaku canggung denganku. Ya, aku tidak menyalahkan dia. Disini aku tidak bisa mengekspresikan diriku. Karna, aku merasa apapun yang akan aku katakan hanya akan menghasilkan sesuatu yang sia-sia dan tidak bermanfaat. Lebih kepada basa basi yang berkepanjangan.

Dan hari-hari itu terus berlanjut. Aku mendapatkan guru yang baik dan ramah, ia membuat semua orang menjadi akrab. Atau ia akrab dengan semua orang. Ketidakkerasannya membuatnya memiliki kesan baik dan juga guru ideal. Bagiku, apa yang ia ajarkan juga sangat berguna. Ia memang hanya mengajarkan konsep dasar kepada kami, tapi sebenarnya itulah yang tepenting bukan? Ya begitulah kiranya. Panggil ia buk ketut lasmi. Aku harap dia seorang islam, jadi aku akan bisa merasakan kehangatannya sebagai seorang guru. Tapi, ia benar-benar hangat sih.

Ah, dan juga guruku itu mendatangkan seorang medalis perak dari riau. Aku lupa namanya, ia sekarang berada dikelas 12 di cendana Mandau. Ia juga baik, kepintarannya tidak terlalu membuatnya sombong atau memang dia memang bukan orang yang sombong. Aku kagum kepadanya karena ia baik, dan juga ia sudah dua kali meraih medali perak di osn seindonesia. Memang ia tidak bisa begitu akrab dengan perempuan karena ini masalah gender, tapi dia orang yang lucu. Ia juga hebat dalam menjawab soal, ia tidak sombong dengan menunggu kami, ia mengatakan apa yang tidak kami mengerti dan menjelaskan menjelaskan. Ya, juga, tidak ada wajah sombong yang terpampang. Benar-benar baik. Kebaikan dan kepintarannya membuat seperti tipe seorang abang ideal, hehe, aku gapunya abang sih ya tapi menurutku begitulah.

Kenapa aku mengatakan sombong disini? Karna, setelah sekian lama aku hidup aku bisa menyimpulkan kenapa kebanyakan orang menjadi sombong. Yang pertama adalah ego, rasa menang yang dirasakan diri sendiri karena suatu keunggulan sangat mengerikan bagiku, yah, karena aku berfikir setiap orang memiliki keunggulan masing-masing. Lebih tepatnya memiliki bakat masing-masing.
Hm,hm, kembali kepada sosialisasi, dalam satu atau dua hari terakhir tidak seburuk itu. Panggil dia Fellis, dia adalah perempuan yang menghangatkan kelas ia tertawa dan mencoba untuk dekat dengan kami, yang awalnya kelas adalah sebuah kelas yang tak memiliki cahaya kehidupan lambat laun menjadi hangat karena kedatangan mentari dari timur. Ya memang masih redup, tapi cukup untuk membuat kelas menjadi hangat didalam ruangan ac itu. Terima kasih kepadanya. Tapi walaupun begitu, ia bukan teman yang akrab untukku, sama seperti mega, karena ia juga memiliki teman dekat ditempat ini. Dan aku adalah seseorang yang cukup jauh dari kata “teman dekat”.

Komunikasiku dengan teman sekamarku, panggil dia mega, juga tidak begitu buruk. Dan komunkasiku dikelas juga tidak seburuk yang aku bayangkan. Padahal aku sudah menyusun rencana sebelum datang, tapi masalah yang tampak tidak seburuk yang aku hipotesakan.

Sedikit tentang teman ini, ia baik walaupun sedikit pendiam dengan orang baru. Ia sebenarnya adalah seseorang yang asik, tapi tidak bisa berbuat hal yang sama denganku, karena pola pikir sosialisasiku yang sedikit tidak mengacuhkan dan membuatnya menjadi diam atau lebih tepatnya menutup mulut. Ya aku kagum padanya, ia pintar dan juga sebagai perempuan ia feminism. Lebih kepada diam yang ayu dan ramah yang khas. Kepintarannya membuat poinnya bertambah, tapi ada satu hal yang ingin aku tanyakan padanya. Dan, aku tidak bisa menanyakan itu.

Dan lagi, aku menyusun rencana yang sia-sia, dan yah, aku senang, karena aku tampak sedikit berhasil dalam berkomunkasi dengan orang-orang baru. Tersenyum adalah hal yang selalu aku lakukan, dan tidak mendekati mereka adalah hal kedua yang aku lakukan. Bodoh bukan? Jadi, apa artinya aku tersenyum pada mereka? Aku tahu, aku tersenyum karena aku suka melihat orang-orang ikut tersenyum. Walaupun beberapa hanya member I tatapan aneh karena setelahnya aku tampak seperti menghindar dari kerumunan, tapi itulah aku.

Sebenarnya aku juga pernah mencoba untuk masuk kedalam suatu kerumunan social, tapi, setelah aku datang, semuanya terdiam, lebih kepadanya lebih menahan diri untuk mengutarakan sesuatu,padahal sebelum aku datang, mereka tampak bersenang senang dan tertawa bersama. Jadi, aku mencoba untuk mendapatkan hal yang baru, yaitu tertawa bersama. Tapi, untuk itu cukup sulit ya?

Mereka bercanda tentang suatu hal yang menurutku biasa, seharusnya tidak ada tawa dalam kalimat dan kelakuan itu, tapi hal itu mengingatkanku tentang Liza, seorang sahabat yang setelah aku  bertemu dengannya, aku tidak tahu dan tidak mengerti pembicaraan bagaimana membuat suatu pembicaraan yang menyenangkan. Tapi, padahal aku selalu melakukan itu dengannya setiap hari. Ingin aku mempraktekkannya kepada orang-orang baru disini, tapi aku tak tahu caranya. Haha, hanya tawa dalam hati yang aku hasilkan karena kegagalan rencana ini, karena menurutku semua itu begitu lucu, kegagalan dalam merubah suasana ini adalah lucu.

Kenapa? Karena ini bagian dari proses, proses hidup, entah itu gagal menang semua itu hanya proses, jika aku membuat suatu denah kehidupan seorang insan, ini masih ada 10000…..0000 km perjalanan yang harus ditempuh, dengan catatan, perjalanannya jalan kaki. Anggap saja kita berada pada papan catur yang infinite, dan kita terus berjalan dan terkadang belok horizontal atau membentuk suatu sudut ya apalah itu. Dengan gaya yang harus maksimal jika ingin cepat sampai tujuan, seperti ingin minum karena sudah kehausan, dan jika berhasil mendapatkan minum itu adalah suatu keberhasilan kepada suatu tujuan. Tapi, kita harus berjalan lagi untuk mendapat suatu yang lain seperti makan mandi dan lain-lain. Dan tujuan yang sebenarnya adalah suatu yang tampak jelas namun abstrak. Yaitu kebahagiaan abadi.


Ya, dan lagi, cerita blog ini menjadi curhat berkepanjangan,gomen dan terima kasih sudah membaca. Subscribe? Ini bukan channel youtube =_= hehe, wassalam.

0 comments:

Post a Comment