Friday, 29 April 2016

ABBAS IBNU FIRNAS - SAINTIS ISLAM, PERINTIS TEKNOLOGI PENERBANGAN



Di dunia, nama Sir George Cayley, Otto Lilienthal, Santos-Dumont, dan Wright Bersaudara, dikenal berjasa merintis dunia penerbangan hingga menjelma menjadi industri modern seperti sekarang ini. Tapi, perintis sesungguhnya adalah ilmuwan Muslim Abbas Ibnu Firnas.
Dari berbagai manuskrip kuno, Abbas Ibnu Firnas tercatat sebagai orang pertama yang melakukan pendekatan sains dalam mempelajari proses terbang. Ibnu Firnas pun layak disebut sebagai manusia pertama yang terbang, ribuan tahun sebelum Wright Bersaudara berhasil melakukannya.


Sebenarnya, ilmuwan bernama panjang Abbas Qasim Ibnu Firnas ini lebih dikenal dengan nama di kalangan Barat. Dia dilahirkan pada 810 Masehi di Izn-Rand Onda, Al-Andalus (kini Ronda, Spanyol). Berkat otaknya yang brilian, dia dikenal juga sebagai ahli dalam berbagai disiplin ilmu. Selain seorang ahli kimia, ia juga seorang humanis, penemu, musisi, ahli ilmu alam, penulis puisi, dan seorang pegiat teknologi.

Pria keturunan Maroko ini hidup pada saat pemerintahan Khalifah Umayyah di Andalusia (Spanyol). Pada tahun 852, di bawah pemerintahan Khalifah Abdul Rahman II, saat itu Spanyol tercatat 800 tahun dalam naungan Islam. Bahkan, pada masa Abdurrahman III (912-1031), Andalusia dan ibu kotanya Cordoba mengalami kemajuan yang sangat pesat dalam berbagai bidang, sampai pada puncak kejayaannya.

Parasut pertama
Ilmu pengetahuan berkembang pesat karena sang sultan berhasil menggali sumber daya manusia dan ekonomi tanah Spanyol. Sehingga, menghasilkan kekayaan yang berlimpah ruah pada saat Eropa masih mengalami kegelapan.

Pada saat bersamaan, Ibnu Firnas memutuskan untuk melakukan uji coba terbang dari menara Masjid Mezquita di Cordoba. Untuk mewujudkan idenya, dia menggunakan semacam sayap dari jubah yang disangga kayu. Sayap buatan itu ternyata membuatnya melayang sebentar di udara dan memperlambat jatuhnya. Ia pun berhasil mendarat walau dengan cedera ringan. Alat yang digunakan Ibnu Firnas inilah yang kemudian dikenal sebagai parasut pertama di dunia.

Keberhasilannya itu tak lantas membuatnya berpuas diri. Dia kembali melakukan serangkaian penelitian dan pengembangan konsep serta teori yang ia adopsi dari gejala-gejala alam yang kerap diperhatikannya.

Pada tahun 875, saat usianya mencapai 65 tahun, Ibnu Firnas merancang dan membuat sebuah mesin terbang yang mampu membawa manusia. Setelah versi finalnya berhasil dibuat, ia sengaja mengundang orang-orang Cordoba untuk turut menyaksikan penerbangan bersejarahnya di Jabal Al-’Arus (Mount of the Bride) di kawasan Rusafa, dekat Cordoba.

Penerbangan yang disaksikan secara luas oleh masyarakat itu terbilang sangat sukses. Sayangnya, karena cara meluncur yang kurang baik, Ibnu Firnas terempas ke tanah bersama pesawat layang buatannya. Dia pun mengalami cedera punggung yang sangat parah. Cederanya inilah yang membuat Ibnu Firnas tak berdaya untuk melakukan uji coba berikutnya.

Kecelakaan itu terjadi karena Ibnu Firnas lalai memerhatikan bagaimana burung menggunakan ekor mereka untuk mendarat. Dia pun lupa untuk menambahkan ekor pada model pesawat layang buatannya. Kelalaiannya inilah yang mengakibatkan dia gagal mendaratkan pesawat ciptaannya dengan sempurna.

Mu’min Ibnu Said, seorang penyair yang hidup sezaman dengan Firnas, mencatat aksi Firnas dengan kata-katanya: “Firnas terbang lebih cepat daripada burung phoenix, ketika ia mengenakan bulu-bulu di badannya seperti burung manyar.”


Setelah cedera berat
Cedera punggung yang tak kunjung sembuh justru mengantarkan Ibnu Firnas pada proyek-proyek penelitian di laboratorium. Seperti biasanya, ia meneliti gejala-gejala alam. Di antaranya mempelajari mekanisme terjadinya halilintar dan kilat, menentukan tabel-tabel astronomis, dan merancang jam air yang disebut Al-Maqata.

Ibnu Firnas pun berhasil mengembangkan formula untuk membuat gelas dari pasir. Juga mengembangkan peraga rantai cincin yang digunakan untuk memperlihatkan pergerakan planet-planet dan bintang-bintang.

Hasil karyanya menjadi patron dunia ilmu pengetahuan alam, sebuah puncak raihan ilmu untuk menelusuri angkasa luar yang menandai kegemilangan zaman al-Andalus. Dari dasar-dasar gravitasi bumi ini, Ibnu Firnas sudah menentukan dasar-dasar bagi pembuatan pesawat angkasa. Bahkan, dia jauh lebih canggih dari imajinasi Leonardo da Vinci tentang planetarium pada enam abad setelahnya.

Yang tak kalah menariknya, Firnas berhasil mengembangkan proses pemotongan batu kristal yang pada saat itu hanya orang-orang Mesir yang mampu melakukannya. Berkat penemuannya ini, Spanyol saat itu tidak perlu lagi mengekspor batu kuarsa ke Mesir, tapi bisa diselesaikan sendiri di dalam negeri.

Salah satu penemuannya yang terbilang amat penting adalah pembuatan kaca silika serta kaca murni tak berwarna. Ibnu Firnas juga dikenal sebagai ilmuwan pertama yang memproduksi kaca dari pasir dan batu-batuan. Kejernihan kaca atau gelas yang diciptakannya itu mengundang decak kagum penyair Arab, Al-Buhturi (820 M-897 M).

Inovasi Menuju Dunia Penerbangan
Abbas Ibnu Firnas wafat pada tahun 888 dalam keadaan berjuang menyembuhkan cedera punggung yang diderita akibat kegagalan melakukan uji coba pesawat layang buatannya. Walaupun percobaan terbangnya belum sempurna, namun gagasan inovatif Ibnu Firnas kemudian dipelajari Roger Bacon, 500 tahun setelah Firnas meletakkan teori-teori dasar pesawat terbangnya. Kemudian, sekitar 200 tahun setelah Bacon (700 tahun pascauji coba Ibnu Firnas), barulah konsep dan teori pesawat terbang modern dikembangkan.

Setelah Ibnu Firnas, percobaan di dunia penerbangan dilakukan pada tahun 1003 oleh Farabi Ismail al-Jauhari, seorang guru asal Iran yang menyukai tata bahasa Arab. Al-Jauhari menggunakan pesawat terbang tak di kenal yang diluncurkannya dari atas atap masjid tua Nishabur di Khurasan, Turkistan.

Pada tahun 1162, saat berkecamuk Perang Salib, para tentara Muslim sudah menggunakan pesawat terbang untuk melakukan serangan. Para Saracen (Muslim zaman Perang Salib) berdiri di atas Hippodrome Constantinople dengan sebuah peralatan terbang seperti jubah. Marcopolo dalam sebuah perjalanannya mencatatnya sebagai aksi terbang layang di Asia Timur.

Bagi Marcopolo, itu sebuah aksi yang misterius yang teka-tekinya tidak terungkap. Hingga pada abad 16, Leonardo Da Vinci mencoba memecahkan teka-teki pesawat terbang yang diperkenalkan Ibnu Firnas. Da Vinci merasa terkunci dengan misteri burung-burung hingga jenius Italia itu melakukan pembedahan terhadap unggas yang menghasilkan rancangan mesin terbang yang diikatkan di punggung seorang laki-laki.

Setelah Da Vinci, percobaan penerbangan yang lebih modern berhasil dilakukan oleh Hezarfen Ahmed Celebi, pilot Turki paling terkenal pada masa Khalifah Usmani di bawah pemerintahan Sultan Murad IV. Diilhami rancangan Da Vinci, dengan mengoreksi beberapa bagian dan sistem keseimbangannya, Hezarfen bereksperimen pada burung rajawali. Setelah melakukan sembilan kali percobaan, Hezarfen menemukan formula yang cocok untuk sayap pesawatnya. Pada tahun 1638, dengan ketinggian 183 kaki dari Galata Tower di dekat Bosporus Istanbul, Turki, Hezarfen melakukan uji coba penerbangan.

Dia terbang melintasi Uskudar, lalu berbelok ke Bosporus. Hezarfen mendarat mulus di sebuah tempat di Borporus. Peristiwa ini direkam oleh penulis perempuan Evliya Celebi dalam bukunya Seyahatname (Catatan Perjalanan). Prototipe pesawat Hezarfen inilah yang 200 tahun kemudian menjadi bahan percobaan di tempat lain oleh Wright Bersaudara pada Desember 1903.

Meski dunia penerbangan telah melampaui khayalan Abbas Ibnu Firnas, sosoknya tetap terpatri di kalangan Muslim. Parasnya kini hanya bisa ditemui tercetak di atas sebuah perangko buatan Libya. Tubuhnya tercetak pada kegagahan patung dan nama lapangan terbang di Kota Baghdad, Irak. Namanya juga diabadikan sebagai salah satu sebutan untuk kawah permukaan di Bulan. Namun, pemikirannya tetap mengilhami dunia sains modern.

0 comments:

Post a Comment